Suara-Suara Luar Biasa dari Sal Priadi

Sepertinya lagu-lagu dengan lirik dan musik yang tidak biasa masih didominasi oleh musisi dari jalur indie. Salah satunya adalah Sal Priadi yang memulai karir bermusiknya sejak 2017. Hadir dengan pop sebagai genre-nya, laki-laki asal Malang ini memberikan suara-suara orkestra dan musik string yang mengantarkannya menjadi nominasi Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award. Pada 247 COTTONINK Magazine, Sal menceritakan proses kreatif dalam membuat lagu-lagunya.

 

Kenalan dulu, yuk!

Nama saya Sal Priadi. Memulai karir bermusik sejak 2017, di tahun yang sama dengan rilisnya single pertama “Kultusan”. Beberapa bulan setelah itu, di tahun yang sama, saya merilis “Ikat Aku di Tulang Belikatmu”. Sampai saat ini, saya sudah merilis lagu-lagu lain termasuk kolaborasi terakhir bersama Nadin Amizah, “Amin Paling Serius”.

 

Apa yang membuat Sal ingin bermusik?

Awalnya karena kecintaan saya dalam menulis. Selain itu, saya jarang menyanyikan lagu orang lain ketika bermain gitar. Biasanya saya menemukan kord ketika bersenandung sampai akhirnya muncul nada yang diinginkan. Lalu saya nyanyikan kata-kata yang sudah ditulis sebelumnya dengan nada yang random tadi. Itu saya lakukan setidaknya selama empat tahun sebelum akhirnya berani merilis lagu sendiri di 2017.

 

Ceritakan tentang nominasi yang didapat dari AMI Award tahun lalu.

Itu terjadi setelah “Ikat [Aku di Tulang Belikatmu]” rilis dan didaftarkan ke website AMI Awards. Saya tidak berekspektasi apa-apa saat itu karena masih tinggal di Malang. Awalnya, saya hanya berharap dapat nominasi di kategori pendatang baru. Tapi secara mengejutkan, saya masuk ke kategori penyanyi pop pria terbaik bersama nama besar lain seperti Vidi Aldiano, Afgan, Rendy Pandugo, dan lainnya. Lalu saya berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara tersebut. Setelah itu saya mulai percaya kalau musik saya bisa ditampilkan ke pendengar yang lebih luas.

 

Bagaimana akhirnya berkolaborasi dengan Nadin Amizah untuk “Amin Paling Serius”?

Awalnya, saya sudah mengagumi Nadin ketika dia merilis lagu dengan Dipha [Barus]. Kami saling follow di Instagram tapi belum pernah mengobrol sama sekali. Satu hari, saya merespon Instagram Story Nadin, lalu kami mengobrol sedikit sampai pada titik di mana kami berencana untuk menulis bersama.

 

Kesempatan itu datang beberapa bulan sebelum “Amin [Paling Serius]” dirilis, ketika tim manajemen saya mengontak Nadin untuk mengajak berkolaborasi. Selain itu, kami sudah punya sebuah lagu yang perlu dinyanyikan secara kolaborasi dan untuk hal tersebut orangnya harus Nadin. Lalu saya kirim “Amin” ke Nadin, dia tertarik, kami bertemu, tulis liriknya bersama, dan hasilnya adalah yang bisa kita dengarkan sekarang. Semuanya terasa seperti semesta mendukung kami.

 

Judul lagu-lagu Anda terdengar unik. Seperti salah satunya “Jangan Bertengkar Lagi [Ya? Ok? Ok!]”. Apa inspirai di balik judul tersebut?

Untuk “Jangan Bertengkar [Lagi Ya? Ok? Ok!]”, awalnya itu hanya berjudul “Jangan Bertengkar Lagi”. Sebelum dirilis, saya pikir judulnya perlu sedikit ditambah dengan sesuatu yang menyenangkan dan eksentrik karena ini terdengar lebih ‘pop’ jika dibandingkan dengan lagu-lagu Saya sebelumnya seperti “Kultusan”, “Ikat”, dan “Lebur Semesta”. Lalu saya bilang ke tim, “Gimana kalau kita tambah ‘Oke? Oke!’ di belakangnya?” Karena jika dipikirkan, ketika saya bertengkar dengan pasangan, dia tidak akan pernah menjawab pertanyaan saya. Jadi saya biasanya menjawab pertanyaan itu sendiri.

 

Setelah Nadin Amizah, siapa lagi yang mau diajak berkolaborasi?

Sejauh ini masih belum tahu. Tapi saya sangat ingin berkolaborasi dengan musisi keroncong atau bahkan dangdut. Sepertinya itu akan menantang untuk memperkenalkan keroncong atau dangdut dengan gaya saya.

 

Siapa yang menginspirasi Sal dalam membuat lagu dan apa yang menjadi panduan ketika membuat konsep untuk karya Anda?

Seringnya inspirasi saya bukan “siapa” tapi “apa” atau “bagaimana”. Seperti ketika mendengarkan cerita orang lain, saya akan memproses emosi dan menulis lirik dari hal tersebut. Contohnya ketika nonton konsernya Sheila On 7 dan melihat ada pasangan yang saling berpelukan sepanjang konser berlansung. Mereka terlihat sangat bahagia bagaikan itu adalah konser terakhir mereka. Itau dalah sesuatu dan emosi yang bisa saya rasakan dan proses setibanya di rumah dan menjadikan itu sebuah lagu. Dengan kata lain, lebih seperti percikan inspirasi dadakan ketika saya mendapatkan sesuatu untuk ditulis sebagai lagu.

 

Untuk nada, mereka tidak hadi dalam waktu bersamaan ketika mendapat inspirasi yang tadi saya bilang. Biasanya, mereka datang entah dari mana ketika sedang berjalan kaki, duduk di mobil, atau nongkrong dengan teman-teman. Ketika saya mendengar nada yang menarik, saya akan merekamnya di ponselada banyak nada yang tersimpan di ponsel saya. Ketika inspirasi datang, saya cenderung menulis liriknya dulu baru mencari nada yang sesuai dengan gitar saya. Untuk artworks, ide biasanya datang ketika lagunya sudah selesai.