Perjalanan Sailormoney dalam Body Positivity Movement

Artikel ini awalnya diterbitkan pada Mei 2020 di 247 COTTONINK Magazine.

 

Setiap orang bisa jadi pernah merasa tidak nyaman dengan tubuh mereka sendiri. Ada beragam faktor yang membuat seseorang mengalami ini. Faktor internal seperti kurangnya rasa percaya diri adalah salah satunya. Dan biasanya, rasa percaya diri ini juga terkait dengan faktor eksternal yaitu penggambaran tubuh ideal dari lingkungan yang diperkuat oleh peran media dalam menentukan apa yang terlihat bagus dan tidak. Kurang tepat rasanya jika menganggap masalah penampilan yang mempengaruhi tingkat kepercayaan diri hanya terjadi di masa pubertas. Padahal, masalah ini bisa berlanjut sampai dewasa apabila tidak diatasi dengan penerimaan akan diri.

 

Perempuan masih menjadi kelompok besar yang terdampak dari penggambaran tubuh ideal oleh lingkungan dan media. Sejak kecil, perempuan sudah harus menanggung segala macam ekspektasi soal bagaimana harus berlaku dan berpenampilan agar diterima oleh lingkungan. Belum lagi ketika remaja, perempuan seakan dituntut untuk memenuhi penggambaran akan bagaimana bentuk tubuh ideal yang banyak ditampilkan di media.

Kita tahu kalau mereka yang bertubuh gemuk sering kali mendapatkan diskriminasi secara langsung maupun tidak langsung karena bentuk tubuh yang dimiliki. Diskriminasi secara langsung belakangan ini sering disebut sebagai body-shaming atau fat-shaming.

 

Bayangkan, kalian diejek hanya karena tidak memiliki bentuk tubuh ideal yang diharapkan oleh lingkungan atau ditampilkan di media. Sementara diskriminasi tidak langsung salah satunya hadir dalam bentuk pakaian yang diproduksi tanpa mempertimbangkan kalau tubuh manusia tidak hanya terdiri dari ukuran S, M, L, dan XL saja. Padahal, apa yang dipakai adalah salah satu cara seseorang untuk mengekspresikan diri.

 

#CottoninkTeam berkesempatan untuk ngobrol tentang body positivity bersama Nadya Syarifa Mirandhany a.ka Gemat a.k.a Sailormoney, seorang penyanyi dan model, yang memiliki perhatian besar terhadap isu ini. Melalui wawancara lewat email, Nadya menceritakan awal keterlibatannya dalam gerakan ini dan bagaimana ia memanfaatkan media sosial untuk mengadvokasi body positivity kepada para pengikutnya. Gemat juga membagikan tips dan kata-kata bijak untuk para perempuan yang ingin meningkatkan rasa percaya diri dan self-image mereka. Pastikan untuk baca sampai selesai, ya!

 

Hi Nadya, apa kabar? Boleh perkenalkan diri Kamu kepada pembaca 247 Cottonink Magazine?

Hai, COTTONINK! Thanks so much for having me. I am doing amazing this month, alhamdulillah. Wah, perkenalan diri terkadang sulit bagiku, but let me start with my name. My name is Gemat and I am currently a singer, a host, and a model who is passionate about social justice and anti-discrimination issues. Tahun ini aku berusia 28 tahun dan aku penggemar Vietnamese pho dan lumpia basah hehehe. #foodie

 

Boleh dong ceritakan tentang nama akun Instagram Kamu dan konten apa saja yang ditampilkan di sana?

Lumayan bikin penasaran, ya, ternyata nama akun Instagramku? Di 2013 aku menjadikan SAILORMONEY sebagai username instagram yang merepresentasikan online presence dan identity aku karena baru saja selesai nonton ulang series lengkap Sailor Moon. Dari kecil aku suka banget nonton Sailor MoonCardcaptor Sakura, dan Minky Momo. Tapi Sailor Moon paling nyantol sampai-sampai aku beli photo painting books, beberapa majalah, dan bahkan kue ulang tahunku yang ke-lima aja bertema Sailor Moon! Sementara Money-nya itu lebih ke arah manifesting an image and a state that I want to have. Tahun 2013 itu aku masih kuliah dan sebagai mahasiswa, I was a broke girl hahaha. I wanted to sound kind of gangster and tough and cool while sounding cute, jadilah semua username media sosialku namanya SAILORMONEY. Bahkan sekarang ini jadi monikerku untuk acara dan manggung.

 

Di edisi kali ini, COTTONINK lagi ngomongin tentang body positivity. Boleh gak berbagi cerita kamu tentang isu ini? Dari sejak memulai perjalanan kamu sampai sekarang ini.

Untukku body positivity adalah gerakan aktivisme yang sangat inspiratif dan berani karena basisnya adalah perjuangan dan perlawanan. The initial body positivity movement started as a reaction to fight hate and discrimination towards fat people. Gerakan ini dimulai oleh aktivis gemuk terutama yang perempuan, karena secara sistemik dan sosial, orang gemuk langsung dicap “other” atau “don’t belong” di mana pun. Jatuhnya orang gemuk selalu disingkirkan dari masyarakat, dibikin ngerasa kita tidak pantas hadir maupun hidup di dunia ini; hanya karena perbedaan fisik dan cara badan kita menyimpan lemak (Pssst.. Ini genetik, lho). 

 

My personal experience being involved and advocating for the body positivity movement started when I started to stumble upon the phrase online. Aku gak inget spesifiknya kapan, but quite recent—mungkin di 2016. Di tahun ini aku baru balik ke Indonesia dari kuliah di Inggris. Selama setahun di sana, aku menemukan suatu keamanan dan kenyamanan dalam mengekspresikan diri dengan baju, aksesoris, rambut, dan juga seni. Aku ngerasain banget rasanya belanja baju di Inggris tuh gampang banget cari baju ukuranku.

 

Beda banget sama di Indonesia—cari ukuran aja susah, gimana cari gaya baju yang aku suka di ukuran yang bagus? I think from when I was young I had a really hard time expressing myself through fashion because the industry made me think that I don’t deserve to look cute. Or at least feel good, in the clothes I like. It’s like the industry doesn’t cater to people who look like me. I didn’t hate myself because of my size or figure, tapi aku punya kesulitan tambahan hanya untuk menjadi diri sendiri di negara sendiri. Belum lagi sindiran atau bisikan dari orang-orang cuma karena aku gemuk.

 

Aku bersyukur banget bentuk-bentuk diskriminasi yang pernah dialami pas remaja dulu nggak terlalu diambil hati. Saat kesulitan cari baju yg disuka, aku jadi suka modifikasi aja hand-me-down clothes dari papaku atau bikin daster jadi baju baby doll. Selain itu banyak eksperimen juga sama rambut dan make up. Diskriminasi ini jadi dorongan buat untuk menjadi lebih kreatif dan jadinya fokus ke kegiatan yang aku suka. I do think I built my confidence from doing the things that I genuinely like for myself. 

 

I think this self-confidence really helped me get involved with the body positivity movement when I found it four years ago. I started doing my own thing online, speaking up about discrimination online, and hoping to create discussions that would help other people who look like me or feel like me build their own confidence in order to battle the discrimination they receive just because of the way they look. Jadi perempuan di internet itu gak mudah, apalagi jadi perempuan gemuk. diskriminasi akan selalu ada setiap hari sampai sistem berubah. But in the meantime, I want to inspire people to find and strengthen their core self-confidence through self-love; with the help of the body positivity movement.

 

Sebagai model yang memiliki concern di isu body positivity, apa yang mungkin jadi tips teratas untuk para anak muda yang masih berjuang dengan body image dan low self-esteem?

Aku selalu bilang kalo kepercayaan diri adalah sesuatu yang dibangun dengan cara lebih mengenal dan menyayangi diri sendiri. Hubungan interpersonal itu sangat penting untuk membangun self-awarenessself-esteem, dan self-love. Ini tips teratasku: look inwards and your energy would beam outwards. Harus kenalan dan PDKT dulu sama diri sendiri, dan apresiasi diri sendiri untuk hal-hal kecil yang sudah bisa dan senang kita lakukan. Jadi kita bahagia berada di badan yang diberikan kepada kita. We are all unique in our own ways, and we love ourselves uniquely in our own way.

 

Dengan followers yang lebih dari 10.000, apa dampak dari social media bagi kehidupanmu?

Aku seneng kalo ada banyak orang yang sepemikiran dan bisa bertemu dengan orang-orang seperti itu melalui aku. Selama ini aku selalu menggunakan social media sebagai media untuk berbagi cerita, opini dan informasi. Dan aku selalu mencoba sebisa mungkin to stay kind while I’m doing it. Jadi satu dampak yang didapat dari punya banyak followers sebenarnya lebih ke koneksi ke orang-orang. Sehingga kita semua bisa dapet bermacam perspektif supaya wawasannya lebih luas dan terbuka. Harapannya 10.000 orang ini melihat hal-hal yang aku post di social media dan bisa tergerak untuk memulai pembicaraan tentang isu-isu penting ke orang-orang di sekitar mereka—gak cuma diskusi online aja.

 

Adakah nasihat untuk para perempuan yang ingin meningkatkan kepercayaan diri mereka?

Ladies, as women, we will always be shamed for doing absolutely anything. So do whatever the hell you like and be the best versions of ourselves—while they can only talk about us. I’m sure the moment you stop caring about what people MIGHT say and start caring about how you feel, honey, your confidence is on the way!

 

Apa kata-kata bijak yang bisa kami berikan untuk para perempuan yang masih berjuang dengan self-image mereka?

More than self-image, I believe in self-awareness. This takes a long time to master, but it happens every day when you choose to. Semakin kamu sadar sama diri kamu sendiri, more likely a good self-image would follow. Jangan ragu juga untuk minta bantuan profesional kalau kamu merasa butuh dan mampu untuk membenahi kesehatan mentalmu, ya! Work on yourself because you are your biggest investment.