Nino Kayam dan Kisah Persaudaraan dalam Bermusik

Jun, 28-2022 meike
Nino Kayam dan Kisah Persaudaraan dalam Bermusik

Artikel ini awalnya dirilis pada Februari 2020 di 247 COTTONINK Magazine

 

Kita mengenalnya sebagai salah satu personil RAN. Sekarang Anindyo Baskoro a.k.a Nino Kayam juga dikenal sebagai salah satu produser dari trio penulis lagu Laleilmanino dan seorang penyiar radio bersama Asri Welas. Kami mendapat kesempatan mengobrol dengan pria Scorpio ini dan dia akan membuka tentang hubungan pertemanannya dengan rekan band-nya yang sudah berjalan lebih dari satu dekade, cerita menarik tentang kencan online, dan sedikit nasihat tentanfg berkencan untuk dirinya di masa remaja.

 

Sekarang sedang sibuk apa?

RAN merilis tiga lagu, di mana tiap lagunya dibuat oleh masing-masing personil. Dua di antaranya sudah dirilis dengan trek Rayi berjudul “Ain’t Gonna Give Up” dan trek Asta berjudul “Saling Rindu”. Jadi sekarang sedang mengerjakan bagian saya yang semoga bisa rilis di Februari atau Maret.

 

Laleilmanino juga baru saja merilis single original pertama JKT48 berjudul “Rapsodi”. Ini adalah pengalaman yang cukup unik karena lagu ini adalah trek original pertama yang pernah mereka rilis. Biasanya kan hanya mengadaptasi dari sister group AKB48. Kali ini mereka akan menyanyikan lagu yang dibuat secara eksklusif untuk mereka. Saya bersyukur Laleilmanino dipilih untuk memproduksi lagu tersebut.

 

Laleilmanino itu apa?

Kalau kalian memisahkan namanya, akan terbaca Lale dan Ilman dari MALIQ & D’Essentials dan saya, Nino, dari RAN. Kami bergabung membentuk tim produser yang menulis lagu untuk musisi lain.

 

Alasan mengapa kami membuat trio penulis lagu ini adalah karena orang-orang cenderung mengenal penyanyi atau musisi dari sebuah lagu sementara ada lebih banyak orang yang bekerja di belakang layar untuk lagu tersebut. Kami ingin menjadi tim di belakang layar yang tidak selalu berada di belakang, kami juga ingin disorot sehingga orang-orang tahu kalau penulis lagu memiliki peran penting bagi para musisi. Bayangkan saja jika musisi yang kalian idolai tidak memiliki lagu tertentu yang kalian sukai. Nggak asik kan? Dan tidak semua musisi menulis lagu mereka sendiri. Jadi ada banyak orang-orang keren di Indonesia, dan dunia, yang memiliki peran besar dalam memberikan musik bagus ke telinga kalian tapi mungkin kalian tidak pernah mengenal mereka. Itu visi kami saat membentuk Laleilmanino.

 

Nino dikenal sebagai penyanyi, bagaimana sekarang bisa menjadi penyiar radio?

Saya bersyukur kepada Tuhan yang memberikan cara untuk mencari uang dengan menggunakan suara yang saya miliki. Menyanyi, menulis lagu, dan sekarang menjadi seorang penyiar. Tapi ini bukanlah hal baru untuk saya. Di 2008 saya memulai perjalanan sebagai penyiar dengan mengikuti kompetisi penyiar yang diadakan sebuah stasiun radio. Sempat berada di sana selama dua tahun sebelum berpindah ke stasiun radio lain dan sekarang siaran di Delta FM.

 

Adakah momen menarik yang pernah dialami selama menjadi penyiar radio, entah sendirian atau bersama partner siaran?

Saya biasanya bertemu dengan fans lebih muda yang mendengarkan lagu-lagu RAN atau yang ditulis oleh Laleilmanio. Sekarang karena siaran bersama seorang Asri Welas, yang delapan tahun lebih tua, jadi ada juga orang lebih tua yang menghampiri saya di jalanan. Nggak terlalu tua sih, tapi lebih ke “orang dewasa” sebutannya.

 

Pernah satu hari saya pergi ke Makassar, ada seorang bapak menghampiri dan mencubit saya dan bilang dia mendengarkan acara radio saya (Delta FM disiarkan juga di Makassar) dan sebal karena saya kaku sekali dengan Asri. Sejujurnya, dia benar. Saya sangat canggung awalnya dan memanggil Asri dengan sebutan mbak karena dia lebih tua dan saya tidak bisa memanggil hanya namanya saja. Rasanya sangat salah memanggil orang lebih tua hanya dengan namanya saja. Terdengar nggsk sopan untuk orang Jawa seperti saya. Tapi lama-lama, sekarang saya bisa terbiasa memanggil Asri tanpa sebutan di depannya.

 

Nino dan rekan band yang lain bersekolah di tempat yang sama meski awalnya tidak terlalu dekat. Adakah perbedaan dalam mengatur hubungan sebagai sahabat dan rekan band setelah sekian lama?

Dalam 13 tahun terakhir mungkin kami bertiga lebih sering bersama dibandingkan dengan orangtua masing-masing. Dan saya berpikir nggak ada perbedaan di sana. Kami masih Rayi, Asta, dan Nino dari Al-Izhar yang sama. Tapi ketika RAN punya waktu luang, kami nggak akan saling bertemu sama sekali. Itu karena kami merasa butuh untuk bertemu teman-teman yang lain, keluarga, pacar atau istri untuk Rayi dan Asta, dan libur dari pekerjaan kami.

 

Semisal ada konflik antara Nino dan personil lain, entah dalam hubungan personal atau profesional, bagaimana cara kalian mengatasinya?

Bukan ingin terdengar cheesy, tapi RAN adalah salah satu band yang paling nggak pernah ada konflik sampai hari ini. Kami benar-benar terpisah ketika sedang nggak bekerja bareng. Jadi ketika waktunya untuk bertemu lagi, kami nggak membawa beban atau rasa tidak enak pada satu sama lain. Tapi jika terjadi satu atau dua hal yang membuat masing-masing nggak nyaman, kami akan bilang. Kami tidak pernah membiarkan rasa nggak nyaman berlama-lama di pikiran. Jadi kalau itu masih belum selesai ketika menjelang tidur, biasanya kami akan mengatakannya secara personal.

 

Pernahkah Nino menggunakan aplikasi online dating dan adakah pengalaman menarik ketika menggunakannya?

Ya, pernah. Dulu sekali ketika masih baru dan menjadi obrolan di tongkrongan. Saya menggunakannya hanya untuk mengetahui bagaimana cara kerjanya, tidak ada yang serius. Ada cerita menarik ketika match dengan seorang perempuan setelah swipe ke kanan. Chat pertama yang dia kirimkan adalah, “Bohongan ya ini?” Ternyata dia nggak percaya sudah swipe kanan ke Nino Kayam karena saya menggunakan nama asli dan beberapa foto dari Instagram.

 

Apa pendapat Nino tentang online dating?

Saya melihatnya sebagai jalan pintas dari sesuatu yang biasanya dilakukan sebelum kita pertama kali bertemu seseorang. Satu-satunya yang penting di sini adalah keamanannya karena kita bicara ke orang asing yang belum pernah ditemui. Seperti berjudi pada takdir; bagus kalau bertemu orang baik, tapi tentu saja, sayang sekali jika orang tersebut punya maksud buruk pada kita.

Untuk yang masih melakukan kencan seperti ini, harus tetap berpikir jernih dan hati-hati. Jangan terburu-buru karena mendapatkan pasangan bukanlah perlombaan. Bukan secepatnya tapi setepatnya. Jadi santai saja dan jangan terlalu memaksa.

 

Kalau bisa bertemu diri Nino di usia 17 tahun, nasihat apa yang akan Nino berikan padanya?

Saya dulu menulis lagu hanya kalau sedang naksir pada seseorang. Jika bertemu dengan diri saya di usia 17 tahun, saya akan menyuruhnya untuk nggak terlalu memikirkan tentang perempuan. Tulis lagu sebanyak-banyaknya karena, di masa depan, keahlian itu lebih berharga daripada memiliki pacar.

 

Adakah rencana untuk proyek solo?

Saya adalah seorang team player. Bukannya saya tidak mau melakukan sesuatu sendiri, tapi rasanya setiap saya memulai sesuatu, makin ramai makin seru. Jika melihat pada portofolio, saya nggak pernah mengerjakan sesuatu sendirian. Selalu saja ada orang lain bersamasSaya; di acara radio, RAN, dan Laleilmanino. Bahkan ketika menulis lagu untuk diri sendiri, saya mengajak Nagita Slavina terlibat di dalamnya. Tapi jika saya punya keberanian yang cukup, mungkin saya akan merilis EP sendiri. Mudah-mudahan itu akan terjadi suatu saat nanti.

 

Apa yang patut ditunggu dari Nino dan/atau RAN di 2020?

Lagu saya untuk RAN yang tidak akan terdengar seperti RAN yang kalian kenal sebelumnya. Saya berkolaborasi dengan seorang musisi yang pasti sudah kalian kenal sebelumnya, dan nggak hanya berkolaborasi dengan musisi tapi… Tunggu saja di Februari atau Maret! Tahun ini Laleilmanino akan merilis lagu keseratus kami. Akan ada tur kecil yang berujung pada sebuah konser di Jakarta. Di konser ini, para musisi yang pernah membuat lagu dengan kami akan tampil dan kami juga akan tampil bersama mereka!