Enjoy Free Shipping All Over Indonesia for ALL ITEMS with NO MINIMUM PURCHASE
ENDS IN  

Dea Dalila dan Dirinya yang Eksentrik

Aug, 08-2022 lia oktaviana
Dea Dalila dan Dirinya yang Eksentrik

Artikel ini awalnya diterbitkan pada Juli 2018 di 247 COTTONINK Magazine.

 

Kalian mungkin berpikir pernah mendengar namanya, namun kalian akan benar-benar mengenali suaranya dari hits “Siapkah Kau ‘Tuk Jatuh Cinta Lagi” di 2015 bersama HiVi! karena suara khasnya adalah sorotan dari nada yang catchy itu. Sekarang melangkahkan kaki sebagai penyanyi solo semenjak keluar dari HiVi! pada tahun 2016, Dea Dalila mendorong dengan batas satu proyek di satu waktu. Dia baru saja merilis “Janger Persahabatan”, lagu resmi Asian Games 2018, bersama Ariel, NEV+, dan Guruh Soekarno Putra. Sebagai tambahan untuk single kolaborasinya yang mengasyikkan bersama Alvin Chong, seorang pop-star dari Malaysia, berjudul “Mencintaimu 99%”.

 

Pertama kali kami bertemu di tempat interview dan pemotretan di Jakarta Selatan, dia terlihat manis dan kalem saat bersiap-siap. Tapi ketika sudah berada di depan kamera, seakan ada orang lain yang mengambil alih tubuhnya karena dia menjadi bola api yang memancarkan kepercayaan diri dengan cara aneh yang menyenangkan. Kami duduk dengan perempuan Libra yang menyenangkan dan berbicara tentang kecintaannya akan mennyanyi, zona nyaman, dan membawa musiknya kepada audiens yang lebih luas.

 

Hai, Dea Dalila! Bagaimana Dea menghadapi jalan menjadi solois setelah meninggalkan HiVi! dua tahun lalu?

Karir solo yang dijalani sekarang sangatlah menyenangkan karena saya bisa lebih menjelajahi diri sendiri dan membuat tidak sabar ke mana ini akan membawa saya! Saya yang sekarang dan yang di HiVi! adalah bagian dari diri saya, jadi semua pengalaman itu saya rangkul.

 

Apa titik awal dari kecintaan Dea akan menyanyi?

Semuanya bermula dari film Aladdin produksi Disney yang menuntun saya menjadi penyanyi kamar mandi profesional. Hahaha. Saya juga sering meniru penyanyi pop seperti Britney Spears dan Christina Aguilera, lalu saya pikir, “Saya bisa jadi penyanyi!”.

 

Bagaimana pendekatan terhadap musik Dea?

Musik saya tentu saja sebuah proses. Dia merefleksikan apa yang sedang saya jalani saat itu. Jadi saya tidak akan pernah membuat batasan untuk itu, semua tergantung di mana saya sedang berada saat itu.

 

Jadi sekarang ini Dea sedang berada di momen apa?

Saya berada di fase di mana zona nyaman tidak ada.

 

Keren! Bisakah ceritakan sedikit tentang single Dea bersama Nev+ dan Ariel?

Ini adalah proyek terbesar di mana saya terlibat sejauh ini! Judulnya “Janger Persahabatan” dan merupakan lagu resmi Asian Games. Lagu ini bisa dibilang tentang perayaan persahabatan. Ditulis oleh Guruh Soekarno Putra, yang bagi saya sendiri ketika masih kecil merasa kalau beliau adalah tokoh fiksi. Memikirkannya saja membuat saya merinding karena bekerja sama dengan beliau itu terasa surealis, tidak terduga, dan keren.

 

Kelihatannya banyak sekali yang sedang Dea kerjakan sekarang. Benarkah Dea juga sedang mengerjakan single lain?

Ya! Saya merilis sebuah duet dengan Alvin Chong dari Malaysia yang berjudul “Mencintaimu 99%”.

 

Bagaimana itu bisa terjadi?

Label kami bertemu; labelnya Universal Malaysia dan label saya Musica Studio. Ketika ditawarkan, saya jawab ya karena saya merasakan chemistry dengan Alvin. Dan saya suka bagaimana kami mencampur lagu kami dan bukan membuat lagu baru. Lagu kami dibuat dengan menyatukan lagu dia “Mencintaimu” dan single saya “Cinta 99%”, itulah asal mula judulnya. Sesuatu yang berbeda dan hasilnya adalah lagu menarik yang melengkapi karya kami dengan sangat baik.

 

Apakah urusan musik internasional dengan Alvin Chong adalah jalan untuk emulai karier musik Dea ke audiens yang lebih luas?

Bisa dibilang begitu. Saya pikir ini adalah permulaan dari sesuatu. Tapi tujuan utama saya adalah untuk menjelajah. Saya hanya akan membiarkan segala hal terjadi secara alami dan organik.

 

Terakhir, kami suka sekali dengan Dea yang ekspresif di depan kamera. Apakah Dea selalu seperti ini setiap saat?

Ya, saya sedikit absurd! Tapi sejujurnya, saya sedikit canggung kalau berada di depan kamera. Jadi ketika berada di depan kamera, saya melakukan ini [menggerak-gerakkan tangannya]. Tapi, ya, ketika kamera ini mati, saya bisa lebih rusuh lagi. Hahaha.