Special Curated Items Up To 40% OFF | 23 September - 2 October 2022
 

Bermain Wajah bersama Refal Hady

Sep, 14-2022 meike
Bermain Wajah bersama Refal Hady

Artikel ini awalnya diterbitkan pada April 2018 di 247 COTTONINK Magazine.

 

Menerobos skena film sebagai Galih yang karismatik di Galih & Ratna, remake 2017 untuk film Gita Cinta produksi 1979, orang-orang akhirnya melihat kehadiran Refal Hady sebagai aktor. Dari sana, sepertinya karisma di layar menempel padanya karena dia langsung bangkit menjadi salah satu aktor Indonesia yang menjanjikan.

 

Dia membintangi Critical Eleven, Susah Sinyal, dan film hit Dilan 1990 dalam jangka waktu hanya dua tahun setelah debutnya. Meski kebanyakan bermain sebagai pemeran pendukung di film-film tersebut, Refal memiliki kemampuan untuk mencuri sorotan kapanpun ia berada di layar. Ini adalah sebuah prestasi untuk bakatnya dan sangat mengantisipasi peran utama darinya setelah Galih & Ratna karena aktingnya benar-benar bagus di layar.

 

Kami mengobrol dengan lelaki 24 tahun ini untuk mengetahui awal perjalanannya, dirinya di luar layar, dan ke mana dia akan melangkah.

 

Ceritakan awal mula Anda menjadi aktor.

Awalnya Saya kuliah broadcasting dan setelahnya Saya bekerja sebagai tim kreatif di TV swasta. Pengalaman pertama berada di sorotan adalah sebagai host di salah satu acara yang saya kerjakan. Saat itu saya sangat tidak nyaman berada di depan kamera. Lalu satu hal terkait pada hal lainnya, di mana saya mengikuti audisi untuk peran Galih dan mendapatkannya. Itu adalah gerbang ke dunia akting yang menyenangkan.

 

Pernahkah Anda terpikir untuk menjadi aktor sewaktu masih kecil?

Tidak sama sekali! Tapi saya selalu punya hubungan kuat dengan film. Saya bisa sangat menghayati film yang sedang ditonton. Benar-benar menghayati sampai bisa menangis selama dua hari setelah menonton film itu.

 

Oke, sekarang kami penasaran, film apa yang membuat Anda menangis selama dua hari berturut-turut?

The Notebook, The Vow, dan The Lucky Ones. Hahaha. Oh, dan Her juga bagus!

 

Anda mulai berakting belum lama tapi sudah terlibat banyak film besar. Menurut Anda mengapa itu bisa terjadi?

Tidak tahu. Rasanya saya berhutang sangat banyak pada Lucky Kuswandi [sutradara Galih & Ratna]. Dia pikir saya bisa dibentuk menjadi karakter ini sehingga saya juga mulai mempercayainya juga. Menjadi pengamat yang tajam juga membantu, itu adalah bagaimana saya belajar.

 

Apa yang selama ini menjadi peran paling menantang untuk Anda?

Setiap peran berbeda, namun mungkin jawabannya adalah Galih karena itu adalah jalan masuk saya ke dunia akting. Saya tidak terlalu introvert seperti karakternya, tapi saya mulai bersikap seperti dia di dunia nyata sambil mempersiapkan film ini. Orang-orang mengira saya depresi. Untuk Susah Sinyal, saya juga harus berbicara seperti orang Sumba, perlu pembiasaan. Tapi dengan bantuan pelatih akting, Arie Kriting dan Ernest Prakasa, saya mulai bisa berbicara seperti itu sepanjang hari.

 

Apa yang sejauh ini sudah Anda pelajari dari industri akting?

Ini sungguh bukan sekecil yang saya kira dan tidak semudah kelihatannya. Membuat tokoh yang saya mainkan jadi meyakinkan sangatlah sulit. Menantang tapi sangat bermanfaat. Saya suka melakukannya!

 

Kami penasaran, Anda seperti apa di dunia nyata?

Sepertinya saya ramah! Hahaha. Tergantung dari orang yang saya temui. Saya adalah seorang family guy, sederhana, dan tidak terlalu suka keramaian.

 

Dalam jangka panjang, apa tujuan yang Anda punya?

Memberikan secara total dan menjadi orang yang selalu ingin belajar. Menjadi sombong dan mudah puas dengan apa yang dimiliki adalah sesuatu yang paling buruk yang bisa dilakukan seseorang. Dan tentu saja berharap saya mampu melakukan apa saja yang saya sukai. Saat ini masih akting, tapi kita tidak akan pernah tahu ke mana waktu akan membawa saya.